Wisata Sejarah di Rumah Tan Malaka

8

Menyebut nama Tan Malaka, maka memori banyak orang akan terkenang kepada masa-
mara zaman revolusi fisik di era 40-an. Tentu saja nama ini bagi anak-anak muda kita agak asing,
tapi tidak bagi mereka yang mencintai pergerakan. Dalam buku Tan Malaka, Dihujat dan
Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 karangan Harry Poeze, disebutkan
bahwa Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki,
Sumatera Barat 2 Juni 1897. Bapak Republik Indonesia, seorang aktivis pejuang kemerdekaan
Indonesia , seorang pemimpin sosialis , dan politisi yang mendirikan Partai Murba ini meninggal di
Desa Selopanggung , Kediri , Jawa Timur , 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun).

Dia adalah pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-
pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Jauh
sebelum kemerdekaan RI diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945, Tan
Malaka telah menggagas dan penganjur kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Republik sesuai
dengan tulisannya "Naar De Republik Indonesia" di tahun 1925.
Pada era Soeharto, buku-buku Tan Malaka nyaris sulit didapatkan. Apalagi untuk menyebut nama
Tan Malaka, maka akan selalu dihubungkan dengan komunis. Di era reformasi, nama Tan Malaka
kemudian menghiasi kembali berbagai wacana diskusi kaum intelektual muda Indonesia. Banyak
fikiran Tan Malaka yang dinilai mencerminkan semangat perjuangan untuk jadi inspirasi semangat
anak muda Indonesia.

Salah satu upaya untuk tetap mengenang perjuangannya adalah membuat museum dan
rumah Tan Malaka. Pada 21 Februari 2008 rumah tua Tan Malaka diresmikan menjadi museum Tan
Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Untuk ke lokasi rumah tua Tan Malaka, bisa
ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Tepatnya di Nagari Pandam Gadang,
Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Daerah ini berjarak 32 km dari
Payakumbuh, ibukota Kabupaten 50 Kota. Jalan menuju rumah Tan Malaka sekarang mulus,
layaknya jalan provinsi.

Rumah Tan Malaka merupakan Rumah Gadang dengan atap seng dan dinding kayu.
Dibangun pada tahun 1936 dengan ukuran panjang 18 m dan lebar 11 m dengan atap bergonjong
lima. Dalamnya terdapat koleksi foto-foto Tan Malaka di masa perjuangannya bersama presiden RI
pertama Ir. Soekarno, buku-buku sejarah mengenai perjuangan, ranji-ranji keturunan Tan Malaka
dan buku-buku lainnya. Kondisi rumah tersebut tidak berubah sejak pertama sekali diresmikan.
Kondisi rumah yang dijadikan museum itu masih relatif sama dan koleksi buku tidak banyak
bertambah. Di sekeliling rumah Tan Malaka terdapat sebuah masjid dan hamparan sawah yang
tengah dikerjakan warga. Jika berkunjung ke rumah Tan Malaka, aroma kesunyian jelas terlihat saat
matahari di atas ubun-ubun. Hampir keseluruhan penduduk di sini bekerja sebagai petani.

Jika anda meneruskan perjalanan, lebih dari 10 km lagi akan bertemu dengan sebuah tempat
yang tak kalah penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Di Kota Tinggi, terdapat Monumen
bela negara Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Bagaiman dengan kondisi rumah Tan Malaka? Indra Ibnu Ikatama, kerabat Tan Malaka
sekaligus pengelola rumah kelahiran Bapak Bangsa Republik Indonesia ini mengatakan, kondisi
rumah sebenarnya masih membutuhkan perawatan yang cukup banyak. ‘’Perawatawan tidak bisa
dipenuhi oleh keluarga dan lagipula ini sudah dijadikan kekayaan Pemda,’’kata Indra.

Indra mengatakan, selama setahun ini pemda tidak banyak membantu perawatan rumah
ataupun menambah koleksi di museum ini. Museum juga tidak mempunyai pemasukan karena tidak
ada pungutan pengunjung museum. Koleksi buku di museum ini tidak banyak bertambah sejak
diresmikan pada 21 Februari 2008. Satu-dua tambahan koleksi berupa buku dan gambar Tan
Malaka diperoleh pihak museum dari sumbangan beberapa pihak. Sebenarnya museum ini masih
membutuhkan tambahan koleksi agar bisa semakin kaya dalam pemilikan barang-barang
memorabilia Tan Malaka. Pada awal berdirinya museum, pihak keluarga dan sejumlah kerabat serta

peneliti menyumbangkan pelbagai buku yang ditulis Tan Malaka, buku tentang Tan Malaka yang
ditulis berbagai peneliti, serta benda-benda yang pernah digunakan Tan Malaka.

Share.

About Author

8 Komentar

  1. I am very happy to read this. This is the kind of manual that needs to be given and not the random misinformation that is at the other blogs. Appreciate your sharing this greatest doc.

  2. Hi! Someone in my Facebook group shared this
    site with us so I came to give it a look. I’m
    definitely loving the information. I’m book-marking and will be
    tweeting this to my followers! Superb blog and outstanding style and design.

  3. Howdy would you mind letting me know which hosting company you’re working with?

    I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers and I must say this blog loads a
    lot quicker then most. Can you suggest a good internet hosting provider at a honest price?
    Kudos, I appreciate it!

  4. I do not know whether it’s just me or if perhaps everybody else experiencing issues with your
    site. It seems like some of the written text within your
    content are running off the screen. Can somebody else please comment and let me know if this is happening
    to them too? This might be a issue with my internet
    browser because I’ve had this happen previously. Appreciate it

  5. Greetings from Ohio! I’m bored to death at work so I decided to browse your website on my iphone during lunch break.
    I enjoy the information you provide here and can’t wait to take a look when I get home.
    I’m surprised at how quick your blog loaded on my cell phone ..
    I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyhow, good site!

Leave A Reply