Refleksi Naratif Tiga Penyair Muda Medan

289

Oleh : Yulhasni

Horatius, seorang kritikus Romawi, mensyarakatkan dua hal bagi puisi, yakni indah dan menghibur (dulce), namum pada saat yang sama puisi juga harus berguna  dan mengajarkan sesuatu (utile). Apakah keindahan dan kebergunaan dapat mengalahkan wilayah penciptaan seorang pengarang yang tanpa batas? Perenungan adalah proses kreatif menuju puncak imajinasi. Teks kemudian menjadi wujud dari proses tersebut. Untuk sampai pada teks, maka seorang penyair harus bertungkus-lumus merekam setiap jejak pribadi, orang di sekitar, dan lingkungannya.

Soni Farid Maulana dalam bukunya Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (2012) menyatakan dorongan hati menulis puisi, muncul dalam diri seorang penyair tidak datang begitu saja dari dunia tak dikenal, akan tetapi datang dari sebuah pengalaman yang dihayatinya secara total. Seperti petikan sajak Joko Pinurbo berjudul Menulis Lagi yang termaktud dalam buku “Surat Kopi” : hari inu aku menulis lagi/banyak sepi berwajah baru di sini/banyak rindu belum kutandatangani/. Banyak ide dan gagasan yang berkelindan di fikiran penyair dan dituangkan dengan gaya bahasa tersendiri. Kesemuanya untuk tujuan merekam realitas.

Sartika Sari

Pada kurun waktu lima tahun terakhir, pertumbuhan penyair muda wanita Medan cenderung menggembirakan. Dari sekian banyak itu, saya mencatat 3 (tiga) penyair wanita muda dengan gagasan dan penciptaan bahasa hampir sama yakni refleksi realitas.  Pertama, penyair Sartika Sari yang telah memunculkan kumpulan puisi Elegi Titi Gantung. Elegi Titi Gantung adalah refleksi pe­nyair terhadap tempat : tahun-tahun yang kecil/ tahun-tahun yang satir/ aku menunggang malam di bawah/ lidah komplotan bengal/ laki-laki yang saling bertukar badan/ remaja yang bermain dada berpasang-pasangan. Pada puisi ini, penyair mencoba merekam realitas kehidupan di Titi Gantung, sebuah tempat yang akrab bagi telinga orang Medan sebagai lokasi penjualan buku bekas.            

Julaiha S

          Penyair berikutnya, Julaiha S. (Julaiha Sembiring). Penyair muda Medan juga merekam masal silam dalam buku kumpulan puisinya “Mula-mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat”. Wanita yang baru saja mengikuti Majelis Sastera Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor, 7-13 Agustus 2017 lalu itu, termasuk penyair yang juga rajin merekam realitas di sekitarnya. Simak petikan sajaknya berjudul Mula-mula Kita Pergi, Selanjut Tersesat : mencari-cari tubuhmu dalam kasur/kapuk terbang memengapi ruang mimpi//. Mula-mula kita pergi, selanjut tersesak seperti orang kehujanan//.

 

Penyair muda wanita ketiga adalah Ayu Harahap (24 thn). Dalam buku kumpulan puisinya Masa Silam Rahimmu (MSR) mencoba mencatat pengalamanannya dalam 85 puisi yang di dalam buku itu. Tapi ini bukan soal dia lahir dan lantas penat, melainkan tentang masa silam yang harus didatangi kembali oleh si penyair. Sampai tulisan ini dibuat, buku MSR belum diluncurkan, meski beberapa eksemplarnya telah beredar pada sejumlah penikmat sastra di Sumatera Utara. Pada puisinya berjudul Untuk Istri Penyair, Ayu Harahap melukiskan masa silam tentang tubuh dan sajak : sekalipun tak ada kepang dua dan lipstik/istriku tetaplah sajak//.

Ayu Harahap

Masa silam seperti serpihan yang harus disusun oleh si penyair. Serpihan itu bisa berbentuk lokasi (tempat), orang, bahkan benda sekalipun. Serpihan itu direkam dan dituangkan pada teks puisi. Inilah kenapa kemudian seorang penyair adalah sejarawan yang pintar merekam jejak dengan narasi yang indah. Ketiga wanita muda ini merekam masa silamnya dengan teks puisi yang khas dalam bingkai bahasa metafora yang apik.

Merekam masa silam bisa memunculkan berbagai tafsir terhadap teks puisi. Tidak jarang penyair justeru terjebak pada kesalahan mewujudkan pengalamam itu ke dalam bentuk teks puisi. Persepsi orang terhadap puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang, yang dianggap tidak sesuai dengan fakta, salah satu contoh kesalahan mewujudkan masa silam tersebut. Apalagi jika masa silam tersebut telah diketahui khalayak ramai.

Pengetahuan tentang sebuah masa silam telah ditorehkan ketiga penyair muda wanita Medan tersebut dengan gaya bahasa yang khas. Mereka merekam semua masa silam untuk dituangkan pada teks puisi yang cenderung naratif. Gaya penciptaan yang sama dimungkinkan karena interaksi ketiganya dalam sastra juga cenderung sama. Ketiganya berproses di ranah penciptaan puisi Medan yang dari waktu ke waktu selalu memunculkan penulis-penulis muda berbakat.

Share.

About Author

289 Komentar

  1. Woah! I’m really loving the template/theme of this site.
    It’s simple, yet effective. A lot of times it’s very difficult
    to get that “perfect balance” between usability and visual appearance.
    I must say that you’ve done a superb job with this. Also,
    the blog loads extremely quick for me on Safari. Excellent Blog!

  2. I’m curious to find out what blog system you
    are working with? I’m experiencing some small security issues with my
    latest blog and I would like to find something more safe.
    Do you have any suggestions?

  3. I am extremely inspired along with your writing talents and also with the format to your blog.
    Is that this a paid theme or did you modify it yourself?
    Anyway keep up the excellent high quality writing, it’s rare to peer a great blog
    like this one nowadays..

  4. Woah! I’m really loving the template/theme of this website.
    It’s simple, yet effective. A lot of times it’s very hard to get that “perfect balance”
    between superb usability and appearance. I must say that you’ve
    done a fantastic job with this. Also, the blog loads super quick for me
    on Safari. Exceptional Blog!

  5. I think this is one of the so much significant info for me.
    And i’m satisfied studying your article.

    However should statement on few normal things, The website style is ideal, the articles
    is in reality great : D. Excellent activity, cheers

  6. I’m not sure why but this blog is loading incredibly slow for me.
    Is anyone else having this issue or is it a problem on my end?
    I’ll check back later on and see if the problem still exists.

Leave A Reply