Puisi pada Empat Kampung Cerpen Hasan Al Banna

68

Oleh Yulhasni

 

Harus diakui, jika bicara peta cerpenis Sumut kurun waktu 2000 sampai sekarang, maka nama Hassan Al Banna pantas diletakkan sebagai gerbong baru yang mampu melampaui kualitas dan kuantitas generasi sebelumnya bahkan generasi sezaman dengannya. Serta merta bukan karena cerpen-cerpennya sudah menghiasai pelbagai media nasional (Kompas, Tempo, Suara Pembaruan, Majalah Horison), akan tetapi Hassan Al Banna telah menerobos kebekuan cerpenis kita di daerah ini. Kebekuan yang diciptakan oleh sejumlah faktor yang mengikuti penciptaan beberapa cerpen. Faktor itu dapat dilihat dari pencapaian kualitas penciptaan, kebauran karya hingga lemahnya tema yang digarap. Mungkin faktor itu salah satu penyebab cerpenis di daerah ini tidak diperbincangkan dalam khazanah sastra Indonesia era 90-an ke atas.

Hasan perlahan dan pasti telah memecahkan kebekuan itu lewat empat cerpen ’kampung’ yang ia ciptakan 2006-2008. Hasan kini telah bersiasat untuk keluar dari kejumudan para pengrajin kata-kata yang kita kenal sebagai cerpenis itu. Untuk beberapa saat, Hasan akhirnya harus kita daulat sebagai ’duta’ cerpenis Sumut dalam khazanah sastra Indonesia.

Menulis cerpen sekilas memang lebih berat dari novel. Ini karena penulis harus memiliki siasat untuk berbagai komponen yang mengikuti cerpen seperti alur, karakter, konflik, suspens, gagasan inti dan tentu saja gaya pengungkapan. Jika kita percaya salah satu kekuatan sastra adalah kebauran, maka Hasan meletakkan dirinya pada satu kekuatan itu. Kebauran cerpen-cerpen Hasan –yang akan saya cermati ini—lahir dari proses kematangannya berkreasi.

Cerpen-cerpen Hasan, diantaranya Tiurmaida, Parompa Sadun Kiriman Ibu, Ceracau Ompu Gabe (dimuat di Harian Kompas), dan Pasar Jonjong (dimuat Harian Andalas)  memperlihatkan kekuatan alur cerita, pilihan diksi serta kemampuan Hasan mengemas cerita menjadi hidup.

Selain kebauran dalam konteks kematangan dan konsistensi untuk terus mencipta cerpen, kekuatan utama lain dibangun Hasan lewat cara pengungkapan. Imaji-imaji ketaklaziman itu bisa dibaca dalam pengungkapan cerpennya. Kekuatan cerpen Hasan justru terletak kepada kepiawaiannya mengembangkan teks syair ke dalam cerita. Beberapa teks yang dibangunnya, memperlihatkan kekuatan Hasan dalam bahasa teks puisi. Macam ada bongkahan bertaring yang kian detak kian membengkak (Parompa Sadun Kiriman Ibu, Kompas, 26/8/2006).

Simak dalam teks yang lain pada cerpen yang sama : Maklum, ibu Lamrina lumayan berumur. Badan dan semangatnya sudah menyusut. Jalannya saja beringsut karena sudah lama mengidap rematik akut. Ibu Lamrina tak lagi menggarap sawah peninggalan ayah. Sudah lama itu disewa famili dengan harga murah. Beliau hanya berladang-ladang di belakang rumah.

Latarbelakang Hasan Al Banna sebagai penyair ikut mempengaruhi pilihan diksi cerpennya. Pola persajakan AB-AB yang kita kenal sebagai salah satu ruh puisi, ikut mewarnai tiga cerpen Hasan. Pada cerpen Ceracau Ompung Gabe, Hasan menulis : Luka memang berkibar, dendam, ya, menggelepar.

Pada cerpen-cerpen konvensional-realis, kebauran pengungkapan itu jamak kita temukan. Akan tetapi, penemuan itu akan berangkat dari latarbelakang dunia pengarang. Membaca beberapa cerpen Jujur Prananto pada Kumpulan Cerpen Parmin, kebauran yang dituangkan terletak kepada kepintarannya menempatkan fakta sebagai teks yang hidup. Pilihan diksinya beragam, namun Jujur Prananto tidak menyematkan persajakan pada karyanya.

Berbeda dengan cerpen Hassan Al Banna, penyematan sajak, kontras terlihat. Teks pada cerpen Pasar Jonjong berikut memperlihatkan kecenderungan tersebut : Dingin masih menunggang malam. Di sela jari Ompung Luat, tembakau bakkal dibalut daun biobio tersisa duapertiga. Tapi ia jentikkan begitu saja linting rokok kegemarannya itu ke sebalik belukar. Sebab, selain tak membekaskan rasa hangat, sudah berulang dinyalakan, selalu padam oleh guguran embun malam.

Cerpen Hassan tidak tampil dalam simbolik tema, tapi pada bahasa teks.  Jika merujuk pendapat Bambang Sugiharto dalam Tegangan Antara Bentuk dan Isi –ulasannya tentang Cerpen Terbaik Kompas 2007-2008—selain kekuatan cerpen terletak pada penataan alur, pengelolaan tema dan pendalaman karakter, maka kekuatan lain adalah pada daya puitiknya. Puitik dalam artian hemat, tepat dan dahsyat.

Daya puitik itu diciptakan Hasan dalam alam kesadaran yang tinggi. Teks-teks dalam cerpen Hasan kecerdasannya memanfaatkan sistem linguistik yang serba terbatas. Teks itu kemudian ia ramu dalam ’bahasa kampung’ yang dahsyat dan menyentak. Cerpen Hasan sejatinya adalah cerita kampung. Ada beberapa terminologi kedaerahan yang dicantumkannya dalam tiga cerpen tersebut.  Secara tematik, cerpen-cerpen Hasan menggambarkan situasi lokal sebagai setting cerita. Hasan mengajak pembaca mengenal lebih dekat nilai-nilai kedaerahan, adat istiadat, pendekatan kultural yang berlangsung di Tanah Batak. Meski pesan moralnya tidak menyentuh secara jelas dalam lingkup kehidupan orang, tapi Hasan berhasil mengemasnya dalam bingkai bahasa teks yang puitik.

Proses kreatifitas pengarang serta merta tidak bisa dilepaskan dari kegigihan mencari kebauran pengungkapan. Hasan, jauh sebelum beberapa cerpennya dimuat di koran nasional, juga telah menancapkan kebauran itu. Teks cerpen berikut membuktikan kebauran pengungkapan puitik itu: Dalam suasana hati yang tidak menentu, aku selalu memendam rindu untuk menyaksikan matahari yang tembaga dan senja yang jingga melangkah anggun ke laut biru, menuruni gumpalan-gumpalan awan putih yang serupa anak tangga berjejer dan tersusun rapi di langit abu-abu. (Limbong yang Menunggu Laut, 2003). Pada cerpen Pasha dan Suara Desis di Kamarnya (2004), Hasan menulis teks :  Dengan Melati dan Aini, terkadang ia bertukar gelak, juga berbagi sedak. Tapi kini dan mungkin kelak? Hanya orang-orang dan suara-suara aneh yang menghimpitnya hingga luluh lantak.

Hasan tengah berproses menuju kekuatan pendalaman puitik dalam cara pengungkapan. Proses itu ia lalui dengan terlebih dahulu memperkaya diksi lewat puisi.

Ada kalanya, berbahaya juga jika kekuatan pengungkapan menjadi dominan dalam proses penciptaan. Kekuatan yang berasal dari tema dan karakter, menurut hemat saya, tetaplah jadi panutan. Kekuatiran akan lahir cerpen berbau prosa-liris, akan mengabaikan ajaran moral pada karya itu sendiri. Agaknya Hasan harus berhati-hati memainkan kelincahannya dalam cara pengungkapan. Dunia imajiner yang diketengahkan pada teks cerpen, tidak serta merta membuat cerpen berbeda dengan karya jurnalistik.  Bahwa karya jurnalistik adalah fakta kehidupan sosial budaya yang dijadikan fakta media, itu memang benar. Tapi ada kalanya dunia imajiner tidaklah kotak yang terkunci rapat. Tetap ada celah bagai pengarang untuk masuk ke dalam dan meneruskannya sebagai sebuah cerita yang benar-benar fakta. Nirwan Dewanto agaknya bisa jadi benar ketika mengatakan realisme yang paling banyak dianut cerpenis Indonesia, hanyalah sebuah cara dalam memandang realitas, dan bukan satu-satunya cara, apalagi cara yang paling benar. Dalam realisme sesungguhnya kita hanya mendapat efek atau ilusi realitas, dan bukan realitas itu sendiri.

Pada empat cerpen Hasan, cermin realitas itu tidak terlihat transparan. Hanya karena Hasan piawai mengemasnya lewat kebauran pengungakapan tadi,cerpen-cerpennnya menjadi enak untuk dibaca. Selebihnya, teks-teks cerpen Hasan adalah hamparan bahasa puitik yang mengikuti kekaburan realitas sebenarnya.

Share.

About Author

68 Komentar

  1. Hi! This is kind of off topic but I need some guidance from an established
    blog. Is it difficult to set up your own blog?
    I’m not very techincal but I can figure things out pretty quick.
    I’m thinking about setting up my own but I’m not sure where
    to begin. Do you have any ideas or suggestions? Thanks

  2. Oh my goodness! Awesome article dude! Many thanks, However I am encountering troubles with your RSS.
    I don’t understand the reason why I can’t join it. Is there anybody having similar
    RSS issues? Anyone who knows the solution can you kindly respond?
    Thanx!!

  3. We are a group of volunteers and starting
    a new scheme in our community. Your web site provided us with valuable information to work on. You have done a formidable job and our whole community will be
    thankful to you.

  4. We are a group of volunteers and opening a new scheme in our community.
    Your site provided us with valuable info to work on.
    You have done a formidable job and our whole community will be grateful to
    you.

  5. you are really a excellent webmaster. The website loading
    pace is incredible. It kind of feels that you’re doing any distinctive trick.
    Moreover, The contents are masterpiece. you’ve done a excellent
    job in this subject!

  6. Pretty part of content. I just stumbled upon your web site and in accession capital to assert that I get in fact enjoyed account your weblog posts.
    Anyway I’ll be subscribing on your augment and even I
    fulfillment you get right of entry to consistently fast.

  7. For most recent information you have to pay a visit internet and on the web
    I found this site as a best site for most up-to-date updates.

  8. Greetings from Idaho! I’m bored to death at work so I decided to check out your
    site on my iphone during lunch break. I love the info you provide here and can’t wait to take
    a look when I get home. I’m surprised at how quick your blog loaded
    on my phone .. I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyhow,
    fantastic blog!

  9. Hey there, I think your website might be
    having browser compatibility issues. When I look
    at your blog in Safari, it looks fine but when opening
    in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, wonderful blog!

  10. 5/13/2019 @ 08:06:56 In my estimation, raunraun-sumut.com does a good job of dealing with issues of this kind. While frequently deliberately controversial, the material posted is generally well-written and thought-provoking.

Leave A Reply