Membangunkan Tidur Panjang Kaum Akademisi

26

Oleh : Yulhasni 

Kata kunci untuk tema seminar hari ini hanya dua, yakni membangun kreatifitas
dan nafas sastra. Mungkin ada baiknya saya menambahkan satu kata kunci lagi yakni
kaum akademisi sastra. Tiga kata kunci ini menjadi penting diketengahkan agar
pembahasannya lebih menempatkan kaum akademisi sebagai subjek (pelaku) kreatifitas
sastra. Namun saya lebih tertarik mengajak kita untuk mencoba membangunkan tidur
panjang kaum akademisi sastra.

Dalam berbagai literatur telah disebutkan bahwa khazanah sastra di Indonesia
diramaikan oleh dua kutub, yakni kampus dan non-kampus. Dikotomi pengertian ini
mengacu kepada berbagai fakta yang muncul dalam sejarah sastra di Indonesia. Dalam
makalah ini sengaja saya mempersempit pembahasan hanya di Sumatera Utara atau Kota
Medan. Mungkin jika dikaitkan dengan praktik pengkajian sastra maka dikotomi akademi
sastra dan esais sastra sering terjadi di dalam wacana kesusasteraan di daerah ini.

Saya sengaja mengambil dikotomi untuk tidak hanya sekedar membangunkan tidur
panjang kaum akademisi di USU ini, bahkan mungkin di sejumlah perguruan tinggi
lainnya di daerah ini, akan tetapi menggugah kesadaran kita sebagai masyarakat kampus
untuk menyadari bahwa ‘’wilayah’’ kita telah diambil alih kaum non akademisi.
Pengertian akademisi di sini saya perluas tidak hanya mereka yang bekerja sebagai dosen
melainkan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di jurusan sastra. Kaum non
akademisi saya persepsikan sebagai mereka yang tidak pernah sama sekali bersentuhan
dengan ilmu sastra atau mereka yang tidak bekerja atau berkecimpung di dunia akademisi
sastra.

Polemik kaum akademisi dan non akademisi selalu berujung soal kesanggupan
mengunyah berbagai literatur sastra, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Tulisan
Damhuri Muhammad berjudul Akademi Sastra vs Esais Sastra: Mencari Sekutu Dalam
Seteru telah mencoba memberi nuasa baru tentang betapa sangat pentingnya kaum
akademisi untuk tidak hanya sekedar katak di bawah tempurung. Damhuri menulis bahwa
sebagian besar peneliti sastra yang berlatar belakang akademik dan menguasai aspek
metodologis, justru tidak tekun menyiarkan ulasan-ulasan mereka di media-media
publik─katakanlah di jurnal sastra, majalah, dan surat kabar edisi Minggu. Hasil-hasil
kajian mereka, hanya dapat diakses segelintir mahasiswa di lingkungan Fakultas Ilmu
Budaya.

Di daerah ini, polemik seperti ini bahkan sempat jadi wacana yang menarik di
tahun 1980-an. Setelah itu lenyap karena kaum akademisi lebih banyak berkutat dengan
dunia mereka sendiri. Boleh dikatakan ketika itu peran USU menjadi sangat penting
sebagai penjaga gawang masyarakat kampus dengan berbagai pendekatan dan metodologi
ulasan di berbagai media cetak lokal.

Kreatifitas sastra harus dipahami dalam ruang lingkup yang lebih luas. Kreatifitas
tidak berhenti pada proses penciptaan karya sastra karena defenisi ini sering jadi alasan
kuat kaum akademisi untuk mengatakan bahwa. ‘’tugas kami bukan membuat puisi atau
cerpen tetapi mengkaji dan menelitinya.’’ Jika masyarakat kampus meletakkan dirinya
sebagai orang yang tugasnya mengadakan penelitian dan pengkajian, maka tentu semua itu
harus diwujudkan dengan bentuk yang nyata tidak hanya berhenti pada skripsi, thesis
ataupun disertasi. Kajian-kajian ilmiah harus mampu menyentuh semua lapisan
masyarakat pembaca dan oleh karenanya bentuk publikasi yang paling efektif adalah
media cetak (koran, majalah, dan tabloid).

Kreatifitas dalam Karya
Jika wilayah kreatifitas dipersempit pada proses penciptaan karya sastra, tentu saja
harus diakui bahwa saat sekarang, minus USU, masyarakat kampus begitu gencarnya
melahirkan karya. Bahkan beberapa diantara mereka telah didaulat sebagai kelompok
sastrawan nasional. Selain berkreasi secara individu mereka juga membuat kelompok.
Sayangnya meningkatnya kreatifitas tidak diikuti dengan munculnya genre baru. Namun
sebagai sebuah semangat kreatifitas, hal tersebut patut diapresiasi.
Semangat kreatifitas di kampus lahir karena proses interaksi yang intensif dengan
para pencipta sastra yang telah berkarya. Ruang itu misalnya dapat ditemui di Taman
Budaya Sumatera Utara (TBSU), Omong-omong Sastra ataupun beberapa bentuk kegiatan
sastra yang diadakan pencipta sastra. Proses interaksi tersebut melahirkan keinginan untuk
bisa berkarya. Tidak jarang proses kreatifitas itu lahir prose pembacaan karya sastra di
berbagai media cetak lokal dan nasional.

Minimnya Kajian Ilmiah
Dinamika pengkajian sastra di media cetak di daerah ini harus diakui dalam dekade
90-an ke atas telah menjadi milik kaum non kampus. Bahkan agak ekstrim saya
mengatakan, jika ada kaum akademisi yang muncul, lebih banyak diwakili oleh
mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed). Kurun waktu itu kabarnya sempat
berhenti di era 90-an. Sejak itu, kreatifitas sastra telah diambil alih anak-anak Unimed,
IAIN, UMSU dan UMN. Peta percaturan kreatifitas sastra nyaris tidak menyebut nama
USU sama sekali. Tentu saja ini patut menjadi keprihatinan, terutama bagi civitas
akademika USU. Bahkan dari berbagai pertemuan sastra yang saya hadiri, kita tidak
menemukan lagi hal itu berlangsung secara intensif di Kampus USU Padang Bulan. 5

Hal ini belum lagi soal bagaimana perkembangan teori pengkajian sastra yang
terus mengalami dinamikanya. Pada berbagai tulisan dan diskusi sastra saya kerap
mengatakan bahwa teori struktural sudah usang dan harus segera ditinggalkan. Problem
teori sastra di Indonesia, bahkan secara kasat mata kita temukan di berbagai perguruan
tinggi di Sumatera Utara, sampai saat ini terus saja menghambakan diri pada satu teori
yang lazim disebut kajian struktural. Unsur-unsur struktur dalam karya sastra adalah
makanan wajib para peneliti sastra yang akan meraih gelar sarjana. Ikon intrinsik seperti
dasar kajian yang seolah-olah sulit ditinggalkan. Makanya dalam kajian struktural, tidak
begitu penting adanya fenomenologi penciptaan karya itu sendiri. Teks yang ada dalam  karya sastra dipandang hanya sebatas bahasa tanpa tujuan tertentu alias tidak ada
hubungan sama sekali dengan si pengarang.

Saat sekarang dalam kajian sastra sudah sering diperkenalkan sebuah pendekatan
yang lazim dikenal dengan analisis wacana kritis yang di dalamnya terdapat kajian
postmodernisme, hermeneutika, postkolonial, dan berbagai pendekatan lainnya. Tentu saja
kajian ini harus mendapat apresiasi yang luas dari kalangan kampus. Pertanyaannya,
apakah telah muncul wacana seperti ini? Apakah dalam perkuliahan telah diajarkan
tentang teori sastra kontemporer?

Kita sering menyebut bahwa peran kritikus sastra (pengkaji sastra) adalah
menjembatani karya sastra kepada masyarakat. Dinamika perkembangan sastra di Sumut
sayangnya tidak diikuti oleh perkembangan kajian akademik terhadap karya itu sendiri.
Alhasil, karya sastra di daerah ini akhirnya jadi asing di tengah-tengah komunitasnya.
Padahal dalam perkembangan yang kini sedang trend yakni mencari kearifan lokal dalam
karya sastra, beberapa novel karya Idris Pasaribu (Acek Botak dan Pincalang) serta karya
Hasan Al Banna dalam kumpulan cerpen Sampan Zulaiha bisa diteliti muatan-muatan
kearifan lokal tersebut.

Harus diakui juga bahwa para akademisi sastra tidak mampu menyiarkan ulasan
dan kajian mereka di media-media publik─mungkin karena ruang yang terbatas, atau
karena tidak memiliki keterampilan literer guna mendedahkan esai-esai yang renyah, dan
gampang dicerna pembaca. Pada tingkat mahasiswa saya kira sudah saatnya untuk
mencoba keluar dari keterasingan tersebut agar stigma negatif tentang masyarakat kampus
yang selalu di menara gading itu bisa dilenyapkan.

Share.

About Author

26 Komentar

  1. Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.

  2. Great – I should definitely pronounce, impressed with your website. I had no trouble navigating through all tabs as well as related information ended up being truly easy to do to access. I recently found what I hoped for before you know it in the least. Reasonably unusual. Is likely to appreciate it for those who add forums or anything, website theme . a tones way for your client to communicate. Nice task.

  3. Hey very nice web site!! Man .. Excellent .. Amazing .. I will bookmark your web site and take the feeds also…I am happy to find numerous useful information here in the post, we need develop more strategies in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  4. Hello, i think that i saw you visited my blog thus i came
    to “return the favor”.I’m trying to find things to improve my web site!I suppose its ok to use a few of your
    ideas!!

  5. My brother recommended I might like this
    website. He was entirely right. This submit actually made my day.
    You cann’t imagine simply how so much time I had spent for this
    information! Thank you!

  6. Hello There. I found your blog using msn. This is
    a really well written article. I’ll make sure to bookmark it and come
    back to read more of your useful info. Thanks for the post.
    I will certainly comeback.

  7. Thanks a lot for sharing this with all folks you actually realize what you
    are speaking approximately! Bookmarked. Please additionally seek advice from my website =).
    We could have a hyperlink change contract between us

  8. My spouse and I stumbled over here by a different web address and thought I may as well check things out.
    I like what I see so i am just following you. Look forward
    to looking over your web page for a second time.

  9. For most recent information you have to pay a quick visit world-wide-web and
    on the web I found this website as a most excellent site for
    most up-to-date updates.

  10. raunraun-sumut.com is a well-written piece. I just now passed this on 5/11/2019 to a coworker who’s been involved in a little research of their own on the topic. To say thanks, they just bought me dinner! So, I should probably say: Thanks for the meal!

  11. I’m gratified with the way that raunraun-sumut.com handles this type of subject matter. Usually to the point, sometimes controversial, without fail well-written and thought-provoking.

  12. After checking out a handful of the blog posts on your site, I truly appreciate your way
    of writing a blog. I saved as a favorite it to my bookmark website list and will be checking back in the near future.
    Please check out my website too and tell me what you think.

  13. When someone writes an article he/she maintains the thought of
    a user in his/her brain that how a user can be aware of it.
    So that’s why this piece of writing is outstdanding.
    Thanks!

  14. Having read this I thought it was extremely informative.
    I appreciate you taking the time and effort to put this short article
    together. I once again find myself personally spending a lot of time both reading and leaving
    comments. But so what, it was still worthwhile!

  15. This design is incredible! You certainly know how to keep a reader amused.

    Between your wit and your videos, I was almost moved to start
    my own blog (well, almost…HaHa!) Fantastic job. I really loved what you had to say, and more than that, how you presented it.
    Too cool!

Leave A Reply