Ibuku Malaikat

7

Oleh: Aiyuni Salis Utami Tanjung

 

            Sekolah kami sedang ada event menyambut hari Ibu. Seluruh siswanya wajib mengundang ibu masing-masing ke sekolah. Event yang kami lakukan bermacam-macam. Ada lomba karoeke bersama Ibu, membacakan puisi buat ibu, lomba memasak bersama ibu dan pementasan drama yang dilakukan oleh siswa kelas 8 di sekolah kami. Saya Fira, siswa kelas 8 SMP Bina Bangsa, saya kebagian event pementasan drama. Dari kelas 8A sampai kelas 8F tidak semua siswa bisa ikutan pementasan ini, karena harus melewati seleksi dulu.

Sekarang ini, aku lagi diruang teater. Ruang teater ini tersedia tempat duduk dan nama-nama pemain yang ditulis di kertas kecil persegi panjang yang sudah di tempel di kursi. Aku melihat kursi di sebelahku duduk, di kursi itu tertera nama Nana Diana. Aku sempat berpikir, di kelasku tidak ada siswa yang punya nama ini, “mungkin dari kelas lain,” pikirku. “Nana Diana, orangnya seperti apa ya, apa dia cantik, atau mirip Lady Diana,” pikirku iseng sambil menunggu anak-anak yang lain datang keruangan ini.

Beberapa menit kemudian, ruangan mulai ramai, anak yang bernama Nana Diana mendekati kursi di sampingku. Tapi ada yang aneh, kenapa dia terlihat lesu? Wajahnya muram, “Apa dia belum makan siang!” pikirku.

“Hai, namaku Fira, namamu Nana kan?” ujarku untuk berkenalan dengannya. Dia menatapku dan tersenyum tipis “Hai, iya aku Nana, tahu namaku dari mana?” ujarnya kembali bertanya. “Oh itu,” ujarku sambil menunjuk sebuah nama yang tertempel pada sandaran kursi. Setelah itu, Ia diam saja, tidak banyak bicara “Apa dia tipe pendiam,” pikirku.

Saat latihan drama berlangsung, semua anak senang dengan peran yang dimainkan. Apalagi ada kelompok anak yang sudah akrab karena sekelas. Mereka adalah Nindi, Diah dan  Ruri.

“Duh! Gimana nih, aku malu ditonton sama Ibu, kalo aktingku jelek, ish! jadi gak pede, apa ibuku tak usah diundang aja ya,” ujar Nindi.

“Jangankan kamu, dapat peran bagus, gimana saya, jadi pohon doang, mending Ibu saya tak usah lihat aja deh, malu-maluin,” ujar Diah.

“haha.. kamu sih, disuruh hapal dialog aja susah, ekspresimu juga kaku banget, mirip pohon,” ledek Ruri.

“haha.. bener-bener, udah cocok peranmu jadi pohon, tak pakai dialog, diem aja sampai kesemutan,” sambung Nindi. Begitulah obrolan kelompok  kecil di sana. Mereka saling bercanda sambil mengejek peran masing-masing sih. Meski obrolan mereka seperti itu, mereka tetap semangat berpartisipasi untuk menyambut Hari Ibu.

Bruk! Semua orang menoleh ke asal suara itu, di sana terlihat Nana menjatuhkan properti pentas, dia menunduk,  badannya terlihat gemetar, mungkin Dia takut dimarahi. Secepat mungkin tangan Nana memungut properti yang Ia jatuhkan lalu terburu-buru lari keluar ruangan. Semua heran dengan tingkahnya. Setelah itu para pemain kembali melanjutkan aktivitas mereka, ada yang menghapal naskah, menyusun kostum, serta properti-properti pentas yang lain. Tetapi tidak denganku.

“Ada apa dengan Nana! Semua orang sedang sibuk demi menyambut hari Ibu, semua orang menikmati kegiatan masing-masing,” batinku. Melihat sikap Nana yang aneh aku langsung keluar, mumpung jam istirahat latihan, aku mencari Nana, aku penasaran dengan sikapnya tadi, “Dia pasti punya masalah,” pikirku.

Sebatang pohon besar dan sejuk menjadi tempat yang nyaman untuk menikmati hembusan angin di siang yang terik. Di sana ada seorang siswa yang duduk di bawah pohon rindang itu. Di bawah pohon itu dikelilingi oleh susunan batu dan bisa diduduki. Nana, dia duduk sendirian di sana, menikmati angin sejuk. Tempat yang bagus untuk menenangkan diri. Sesekali wajahnya menunduk melihat sebuah buku yang ada di pangkuannya. Buku apa itu.

“Ah, itu dia! Sedang apa sendirian di situ, enggak takut kesambet penunggu pohon itu apa!, atau jangan-jangan memang sudah kesambet tuh anak!” pikirku jenaka.

“Nana, sedang apa,” tanyaku. Nana tersentak dengan suaraku. “Sedang duduk aja, cari angin,” jawabnya. “Pertama kali ketemu, kamu sudah murung, terus tingkahmu yang tadi, kelihatannya kamu ada masalah ya,” kataku. “Aku enggak papa kog,” jawabnya sembari membuang muka, seperti ada yang sedang disembunyikan.

“Kalau kamu butuh teman curhat, jangan sungkan, Aku bisa bantu,” ujarku. Nana melihatku, menilai apa aku bisa pegang kata-kataku. Aku tersenyum padanya untuk meyakinkan dirinya. “Aku tak bermaksud ikut campur, aku hanya menawarkan diri jadi teman curhat,” ujarku.

“Baiklah, aku hanya sedih di saat hari ibu saja,” ujarnya.

“Loh! Kenapa!,” tanyaku bingung.

“Semua teman, bisa undang Ibunya, menunjukkan bakat mereka di depan ibunya, Aku juga kesal, mereka bisa bilang tak usah udang Ibu karena malu-maluin, padahal aku Iri banget bisa undang Ibu,” kata Nana penuh dengan emosi.

“Hm, begitu ya, sebenarnya aku juga tak bisa undang ibuku,” ujarku sembari tersenyum dan melihat langit. “Kenapa?” Tanya Nana.

“Karena Ibuku adalah malaikat,” ujarku mantap “Aku yakin, tanpa diundang pun, Ibu pasti melihatku dari atas sana,” ujarku sembari menatap langit.

Nana seperti melihat cerminan dirinya, ternyata bukan hanya Dia yang bernasib sama tidak bisa mengundang Ibu. Nana tiba-tiba memperlihatkan buku yang ada dipangkuannya, di dalamnya ada terselip selembar foto dirinya bersama ibunya saat Ia berusia 5 tahun.

“Dia Ibuku,” tunjuk Nana “Apa dia juga jadi Malaikat sekarang,” ujarnya sendu.

“Tentu saja, Ibu kita sedang menjalankan tugasnya menjadi malaikat,” ujarku “Malaikat sesungguhnya,” ujar Nana mulai tersenyum.

Teeet…Teeet. Bel untuk latihan drama sudah di mulai. Dua siswa yang baru saja memutuskan untuk jadi teman curhat segera berlari ke ruang teater dengan semangat.

loading…


Share.

About Author

7 Komentar

  1. We are a group of volunteers and opening a new scheme in our community. Your website offered us with valuable information to work on. You’ve done a formidable job and our whole community will be grateful to you.

  2. Greetings! Very useful advice in this particular article!
    It’s the little changes that make the most significant changes.
    Many thanks for sharing!

  3. Wow that was unusual. I just wrote an really long comment
    but after I clicked submit my comment didn’t
    show up. Grrrr… well I’m not writing all that over again.
    Anyways, just wanted to say fantastic blog!

  4. It’s a pity you don’t have a donate button! I’d definitely donate to this outstanding blog!

    I guess for now i’ll settle for book-marking and
    adding your RSS feed to my Google account. I look forward to brand new updates and
    will talk about this site with my Facebook group. Talk soon!

  5. Hi, always i used to check webpage posts here early in the
    morning, since i like to gain knowledge of more and more.

  6. Attractive component of content. I just stumbled upon your weblog and in accession capital
    to say that I acquire in fact enjoyed account your weblog posts.
    Any way I’ll be subscribing on your feeds and even I achievement you get admission to constantly rapidly.

Leave A Reply