Danau Lau Kawar, Danau yang Kesepian

8

 

Oleh: Fitria Panjang

Sunyi, tenang dan terlupakan. Tiga kata yang cukup untuk menggambarkan suasana Danau Lau Kawar. Sejauh mata memandang, mata disuguhkan dengan panorama yang indah sekaligus menyedihkan, hening, dan berbalut mistis. Seperti inikah Danau Lau Kawar sekarang?

Bermula dari rasa penasaran saya, yang kata orang-orang merupakan danau yang eksotis setelah Danau Toba. Danau yang patut dijadikan wisata andalan Sumatera Utara. Semakin bertambah pula rasa keingintahuan saya tentang danau ini. Saya telusuri di media daring, ternyata benar. Danau Lau Kawar menjadi salah satu danau yang menakjubkan di Sumatera Utara dan wisata yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam. Tapi tampaknya, pernyataan ini hanya cocok ketika Gunung Sinabung belum “terbatuk-batuk”.

Sebelum sampai ke Danau Lau Kawar, saya mencari informasi sebanyak-banyaknya di media daring untuk mengetahui bagaimana keadaan dulu dan kini Danau Lau Kawar. Jika dilihat dari laman, foto-foto dulu menyimpan jejak Danau Lau Kawar yang begitu memanjakan mata. Pohon-pohon menjulang tinggi. Terlihat lapangan hijau terhampar menjadi tempat favorit untuk mengusir kepenatan beraktivitas. Bagi para pendaki, danau ini sangat cocok dijadikan tempat camping sebelum mendaki Gunung Sinabung.

Pertama kalinya saya mengunjungi Danau Lau Kawar, dengan informasi dari google maps sebagai penunjuk arah dan keberanian yang tinggi tentunya. Banyak yang mengatakan status Gunung Sinabung masih dalam zona merah (bahaya). Tapi itu tidak menyurutkan langkah saya untuk tetap berkunjung ke danau ini walau perasaan terus dihantui rasa was-was. Saya berani datang karena mendapat informasi jika Danau Lau Kawar sudah dapat dikunjungi. Walau sebagian informan menyarankan agar saya tidak usah pergi karena Gunung Sinabung masih berstatus awas. Saya memang nekat.

Perjalanan saya dari Medan menuju Danau Lau Kawar, menempuh jarak sekitar 70 km, sekitar kurang lebih 3 jam jika ditempuh dengan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, saya terus mengamati dan menikmati keadaan sekitar. Indah sekali. Tidak henti-hentinya saya mengucap syukur. Terlihat hamparan perkebunan sayur milik warga, kebun jeruk, kebun kol, ada banyak kerbau yang sedang makan, dan Gunung Sinabung tetap elok mengeluarkan asapnya. Di perjalanan, tak henti saya berdoa agar selalu diberi keselamatan. Saya benar-benar menikmati udara pagi. Ditambah dengan jalan yang sudah beraspal, makin bersemangatlah saya untuk tiba di sana.

Akhirnya, sampai juga saya di Danau Lau Kawar, Dusun Lau Kawar Desa Singgarang-garang Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo, letaknya tepat di bawah kaki Gunung Sinabung. Sebelum masuk ke area danau, mata saya mengarah ke samping kiri, terlihat jalanan bebatuan yang rusak. Mengerikan sekali. Tidak salah lagi, ini efek Gunung Sinabung sering terbatuk-batuk.

Ketika hendak masuk, terlihat ada pintu pengutipan retribusi, tapi tidak ada yang menjaganya. Mungkin kami masih terlalu pagi sekali tiba di sini. Tidak ada bacaan pelarangan masuk atau himbauan apapun di area ini. Saya benar-benar heran dengan tempat ini. Sepi sekali.

Ketika masuk area danau, mata saya tertuju pada hutan-hutan hijau yang berjejeran. Angin berhembus membelai wajah. Pohon-pohon tua berjejer mengelilingi Danau Lau Kawar, tampak terlihat air berwarna kehijauan. Rumput tumbuh dengan liarnya. Suasana seram perlahan menghantui pikiran. Sejenak timbul pertanyaan besar, “Apakah benar ini Danau Lau kawar?”

Wajah Danau Lau Kawar Pasca Erupsi

Pasca erupsi, danau ini tak seramai dulu, berbeda saat akses pendakian Sinabung saat masih dibuka. Sebelum dirundung kesepian seperti ini, danau ini pernah menjadi danau yang paling diincar setelah Danau Toba. Walaupun danaunya tidak sebesar danau toba, tapi tempatnya memang sangat cocok untuk berkemah, memancing, bermalam, menyewa perahu atau kapal boat dan berbagai kegiatan lainnya. Tempatnya sejuk, sangat cocok sebagai tempat menghilangkan penat.  Danau ini telah berubah, danau yang kini amat merindukan keramaian pengunjungnya.

Pasca letusan Gunung Sinabung, pengunjung selalu dirundung ketakutan untuk pergi ke sana. Takut jika sewaktu-waktu pengunjung berada di sana, gunung Sinabung erupsi kembali. Tahun 2010, gunung yang memiliki ketinggian hingga 2.451 Mdpl ini kembali aktif, dan kemudian erupsi pada tahun 2013 hingga 2016, akibatnya Danau Lau Kawar lumpuh, dan pengutipan retribusi tidak dilakukan lagi. Pada April 2018, Gunung Sinabung kembali memuntahkan awan panas di area gunung. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Walaupun demikian, aktivitas penduduk di sekitar Danau Lau Kawar tetap dilakukan seperti memancing dan berkebun pun masih berlangsung.

Andai Sinabung Berhenti Mengamuk

Jika demikian terjadi, akan ada banyak tenda-tenda bermalam di pinggir danau yang tenang. Para pengunjung antri menunggu giliran menaiki kapal boat atau menaiki rakit sambil menikmati keindahan danau. Tentunya akan sangat ramai pengunjung di sini. Danau Lau Kawar tidak merasa kesepian lagi. Danau yang memiliki kedalaman 40-50 meter ini masih tetap terlihat indah, tapi tidak seasri dulu. Perlu kiranya pihak pengelola objek wisata Danau Lau Kawar melakukan pengelolaan fasilitas. Terlihat ada sebuah pendopo yang sudah rusak dan belum diperbaiki. Pagar pembatas yang bersisian dengan danau juga ada yang rusak. WC umum juga belum diperbaiki. Jadi, jika sewaktu-waktu Danau Lau Lawar sudah diberi izin beroperasi, para pengunjung akan merasa betah dan ingin berlama-lama menikmati keindahan Danau Lau Kawar karena fasilitas telat terawat, tertata rapi dan terjaga.

Menjaga Sikap itu Penting

Di manapun kita berada, sikap memang harus kita jaga. Berbicara pun punya aturan. Jangan sampai keluar kata-kata kotor, menjerit-jerit apalagi sampai tertawa terbahak-bahak. Intinya jangan sampai membuat keributan sehingga mengganggu ketenangan orang lain. Lalu bertingkah lakulah yang sopan seperti tidak membuang pembalut wanita ke area danau, tidak memotong binatang, dan buanglah sampah pada tempatnya. Sampah yang kita punya, baik ukuran besar ataupun kecil, seperti puntung rokok sekalipun tetap harus dibuang di tempat sampah bukan di area danau. Jika tidak ditemukan tempat sampah, sementara simpan dan bawa pulang saja sampahmu di dalam tas.

Tidak hanya itu, ternyata sering ditemukan warga atau pengunjung menggunakan air danau sesuka hatinya untuk mandi, mencuci piring bahkan mencuci baju. Danau justru tercemar jika bahan kimia dari sabun itu masuk ke dalam danau. Jika hal ini dilakukan terus menerus maka dalam jangka panjang, tentunya mempengaruhi kualitas air danau. “Danau ini karya Tuhan, diberi sejuta keindahan. Sanggup kita mengotorinya?”

Bagi kalian para pecinta alam, tenang saja. Danau ini sedang membenahi diri. Kalau kalian ingin sekali kemping di sini, harus izin dulu dari pemda setempat ya. Nanti, suatu hari. Saya akan mengunjungi Danau Lau kawar ini kembali, menjenguknya lagi, salam rindu Danau Lau Kawar dan Salam Lestari. (Penulis adalah alumnus FKIP UMSU dan bergiat di raunraun-sumut.com)

Pernah Terbit di Harian Analisa 27/1/2019

Share.

About Author

8 Komentar

  1. Hey There. I found your blog using msn. This is an extremely well written article. I’ll be sure to bookmark it and come back to read more of your useful info. Thanks for the post. I will definitely return.

  2. Hello there,

    My name is Aly. Would you have any interest to have your website here at raunraun-sumut.com promoted as a resource on our blog alychidesign.com ?

    We are in the currently updating our do-follow broken link resources to include current and up to date resources for our readers.

    If you may be interested please in being included as a resource on our blog, please let me know.

    Thanks,
    Aly

  3. I’ve been exploring for a little for any high-quality
    articles or weblog posts on this sort of space . Exploring in Yahoo I ultimately stumbled upon this web site.

    Studying this info So i’m glad to show that I’ve
    a very excellent uncanny feeling I came upon just what I needed.
    I such a lot surely will make sure to don?t overlook this web site and
    provides it a glance regularly.

  4. It is the best time to make some plans for the future and it’s time to be happy.
    I have read this put up and if I may just I desire to recommend you few fascinating things or advice.
    Maybe you could write next articles referring to this article.

    I wish to learn even more things about it!

  5. I do not even know how I ended up here, but I thought this
    post was good. I don’t know who you are but certainly you’re going to a famous blogger if you are not already 😉 Cheers!

Leave A Reply