Curup dan Kapahiang, Kota Janda yang Kaya Keindahan

85

Catatan : Yulhasni

Akhirnya, kesampaian juga niat untuk ke Bengkulu. Ini dendam yang sudah menahun. Dari sepuluh provinsi di Sumatera ini, tinggal Bengkulu yang belum terjamah kaki. Cerita dari mulut ke mulut tentang Bumi Raflesia ini selalu menggodaku untuk menelanjanginya. Tiga hari rasanya terlalu singkat mengenali satu persatu keindahan alamnya. Tapi beruntung, empat hari itu waktuku habis Kabupaten Kapahyiang dan di tanah Curup, kota indah yang dingin, ibukota Kabupaten Rejang. Dulu, sebelum daerah ramai-ramai memekarkan diri, Curup adalah ibukota Kabupaten Rejang Lebong.

Sebelum ke Curup, kami singgah di Kapahyiang. Perjalanan dari Bengkulu ke kota Curup kami tempuh dengan menaiki sepedamotor. Meski jaraknya hanya 8 KM, tapi perjalanan kami jadi lama. Kami harus menikmati jalan berkelok-kelok melintasi perbukitan. Berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, udara terasa bersih. Hamparan daun-daun hijau dan rapi memenuhi ruang pandangan mata. Menyegarkan. Apalagi kami melintasi hutan dalam hujan gerimis kecil yang menimpa bumi. Hawa sejuk membelai tubuh begitu kaki menjejak lokasi perkebunan teh. Lokasinya berada sekitar tujuh kilometer dari ibu kota Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Di Provinsi Bengkulu, Kepahiang merupakan kabupaten baru. Semula Kepahiang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong. Daerah yang berada di dataran tinggi Pegunungan Bukit Barisan ini ditetapkan menjadi kabupaten sejak 18 Desember 2003. Tidak kurang dari 80 sungai mengalir melintasi daerah tersebut yang bermuara ke Sungai Musi. Masyarakat memanfaatkan sebagian besar air sungai untuk irigasi, sumber air bersih, dan perikanan keramba. Kondisi geografis kabupaten ini berpengaruh terhadap kesuburan lahan di seluruh wilayahnya. Lahan kabupaten ini tidak hanya subur untuk teh. Ada berbagai macam tanaman perkebunan yang tumbuh baik di daerah ini. Luas lahan untuk sekitar 15 komoditas perkebunan rakyat yang tersebar di keempat kecamatan setidaknya 35.000 hektar. Sedikitnya sekitar 23.000 petani menggantungkan asap dapur mereka pada kegiatan perkebunan.

Kami memarkirkan sepedamotor tepat di gubuk penjaga kebun. Di sini, setiap hari sekitar lebih dari 300 orang menyusuri areal tanam seluas 275 hektar untuk memetik teh. Pemetik teh ini harus bisa mendapatkan 15 kg per hari. ‘’Namanya teh oolong. Artinya naga hitam. Kata orang-orang, nama itu diambil dari bahasa Cina,’’Heri Mulyadi, gaet kami yang asli putra Curup mulai bercerita tentang kualitas teh Kapahyiang. Kata dia, jika diminum secara rutin, badan bugar dan jauh dari penyakit.

Tapi kata Heri, teh oolong ini tidak akan ditemui di pasar domestik. ‘’Karena kualitas bagus, daun teh yang sudah kering setiap bulan dikirim ke Taiwan melalui Tanjung Priok,’’jelas Heri. Nah, kalau anda pernah minum teh bermerek Taiwan Oolong Tea, itu murni dari bumi kita. Katanya, di Taiwan, perusahaan Oriental Golden Trading Co Ltd mengemasnya dalam ukuran ¼ kg, ½ kg, dan 1 kg. Kemasannya terlihat mewah. Paduan warna merah dan hitam dengan motif seperti kain tenunan. Di antara “hiasan” daun teh terdapat label bertuliskan “Taiwan Oolong Tea”. Teh dalam kemasan ini menjadi salah satu pilihan cendera mata dari negara itu.

Kami menghabiskan waktu hampir tiga jam hanya untuk 5 hektar areal yang sempat terjamah mata. ‘’Kalau semua kita kelilingi, dua hari tidak akan selesai,’’kelakar Heri.

Kami tidak bisa berlama-lama di kebun teh. Perjalanan masih panjang dan langit pun makin gelap. Hari itu, jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, tapi serasa sudah sore menjemput malam. ‘’Kita singgah dulu di rumah temanku di Curup. Ini kan masih suasana lebaran,’’katanya.

Limabelas menit berselang kami sampai di rumah yang dimaksud Heri Mulyadi. Kami disambut dengan suguhan kopi hangat, minuman khas Curup. Akhirnya sampai juga di kota dingin ini, pikirku. Curup memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi robustas. Jangan heran, jika suatu waktu anda singgah bertamu di Curup, anda akan disuguhi kopi. Bagi masyarakat di sini, waktu tidak jadi persoalan. Mungkin kita hanya mengenal minum kopi di pagi atau malam hari. Di Curup, setiap waktu adalah kopi. Kalau anda baru kembali dari daerah ini, pertanyaan pertama yang akan ditagih rekan anda adalah, kopi Curup.

Kami tidak bisa berlama-lama. Perjalanan terasa singkat sekali. Aku harus menghabiskan dua hari ini untuk Curup. Meski tidak puas, tapi dengan masuk ke pemandian air panas Suban, menelanjangi kaki bukit Gunungapi Kaba atau iseng-iseng memelototi gadis-gadis kota, yang ehem…ternyata janda-janda muda kota Curup, bagiku sebuah kesempurnaan yang sulit diperoleh tahun-tahun mendatang. Kami juga sempat melihat ‘’Batu Menangis’’ yang menurut legenda merupakan reinkarnasi dari seorang putri yang ditinggal oleh kekasihnya.

Sebenarnya nikmat sekali duduk berlama-lama dalam udara dingin sambil menyeruput kopi hangat. ‘’Kita harus sampai sebelum pukul lima di kaki bukit Kaba,’’kata Heri. Ia tahu betul mengatur jadwal singkat yang kami miliki di Curup.

Gunungapi Kaba dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dari kota Curup melalui desa Simpang Bukit Kaba, yang terletak di jalan raya Lubuk Linggau-Curup, menuju desa terdekat (5 km dari arah puncak), Sumber Urip. Pencapaian dari desa ini bisa dilakukan dengan kendaraan roda gardan ganda atau dengan menggunakan sepeda motor maupun jalan kaki.

ampai di kaki bukit, waktu sudah nyaris pukul enam. Rasanya tidak mungkin lagi kami mendaki Kaba. Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para wisatawan untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng baratdaya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunungapi di Kabupaten Rejang. Tapi kami tidak bisa mencapainya.

Impian itu hanya bisa terpuaskan dengan memandanginya dari kejauhan. Tapi rindu itu terobati sedikit ketika sepanjang jalan kami menikmati keasyikan petani dengan sayur mayurnya.  Kami juga menyaksikan petani memetik kopi di kebun mereka masing-masing.

Matahari terlihat sudah mulai meninggalkan peraduannya. Sayup-sayup dari arah masjid di kaki bukit Kaba, alunan ayat Al Qur’an dari tape recorder yang mungkin sudah tua dan karatan mengingatkan kami untuk pulang. ‘’Nanti malam kita jalan-jalan ke kota Curup saja. Besok baru ke Danau Mas,’’kata Heri.

Mengitari malam di Curup seperti melihat antrian kenderaan sepedamotor di sepanjang traffigh ligh. Ternyata, angkutan umum paling utama di kota ini bukan angkot ataupun bus. Ada sekitar 6000 penarik ojek yang beroperasi di kota yang berpenduduk lebih kurang 160.035 jiwa ini. Curup di malam hari ibarat malam takbiran atau malam tahun baru. Anda jangan keliru. Di kota ini memang penarik ojek sangat bebas beroperasi. ‘’Yang ada izinnya tidak sampai 20 persen,’’kata Heri. Mengitari Curup di malam hari ternyata mengasyikkan juga. Di rumah-rumah panggung khas Curup, mata kami tidak bisa lepas dari tatapan gadis-gadis yang tersenyum manja. Itulah janda-janda muda kota Curup. Tapi biarlah malam pergi dengan senyum para janda itu. Besok kami harus menjalani rute lain yang tentunya mengasyikkan. Malam itu kami terlelap dalam mimpi-mimpi indah para janda Curup.

Minggu pagi, dalam kabut cukup tebal yang menyelimuti sekitar wilayah pegunungan di akhir pekan Oktober 2007, kami sudah bergerak. Di jalan, pengendara kendaraan bermotor beroda empat dan dua menyalakan lampu. Di sebuah lembah yang dikitari oleh perbukitan, sejumlah pedagang tengah menata dagangan di atas meja. Sekelompok pemuda berjaket tengah berkerumun di tempat parkir kendaraan yang masih kosong. Beberapa orang di antara mereka tengah merokok, mungkin untuk mengurangi udara dingin. Dua orang di antara mereka lalu mencoba menyalakan api di setumpukan kayu, persis di batas luar lahan parkir.

Kecuali ibu-ibu pedagang dan kelompok pemuda, tidak ada orang lain terlihat di kawasan itu. Kesan sepi terasa menaungi kawasan berhawa sejuk tersebut. Mungkin karena kami sampai tepat pukul 08.00 WIB. Di kejauhan, di punggung-punggung bukit yang mengelilingi danau dan kebetulan tidak diselimuti kabut, tanaman sayuran berbagai jenis terlihat hijau subur. Samar-samar terlihat sejumlah petani tengah memetik sayuran di kebun mereka. Pemandangan dan udara pagi terasa segar.

“Pada hari Minggu seperti sekarang ini biasanya pada siang nanti pasti akan datang banyak pengunjung. Akan tetapi mungkin saja hari ini sepi, tergantung hujan turun atau tidak,” ucap Satria Masyad, salah seorang pemuda di tempat parkir. Kami memarkirkan sepedamotor dan duduk di atas batu-batu besar.

Kendati senyap masih menyergap, kawasan wisata Danau Mas di Desa Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang, itu terasa menyimpan potensi keindahan alami yang menawan. Meskipun obyek wisata yang ditawarkan hanyalah berupa danau di perbukitan, kawasan itu tetap menawan bagi pengunjung yang datang. Terlebih lagi, kawasan Rejang sedikit memiliki obyek wisata. Kawah Bukit Kaba dan Air Panas Suban hanyalah dua lokasi wisata lain yang menjadi pilihan wisatawan di daerah itu.

Danau Mas terletak sekitar 19 kilometer dari Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, atau sekitar 25 kilometer dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Danau ini terletak di tepi jalan yang menghubungkan dua kota bertetangga tetapi lain provinsi tersebut.

Lokasi Danau Mas akan dengan mudah terlihat oleh para pengguna jalan yang tengah melintas. Letak danau yang berada di lembah, persis di bagian bawah tepi jalan, memudahkan pemakai jalan untuk melihatnya.

“Pengunjung yang datang ke sini, sebagian memang pemakai jalan yang tengah melintas, baik ke arah Lubuk Linggau maupun ke arah Curup dan Bengkulu,” kata Heri yang masih setia memandu kami.

Danau ini konon katanya buatan. Jauh tahun sebelum ramai dikunjungi orang, danau ini hanya berupa sebuah sawah lebar. ‘’Karena selalu banjir karena air dari perbukitan mengalir ke sawah, lama kelamaan jadi danau,’’cerita salah seorang tukar parkir yang mengaku sudah sejak lama mencari nafkah di lokasi itu.

Warga Lubuk Linggau pun hanya memiliki pilihan lokasi wisata berhawa sejuk di Danau Mas. Perbedaan iklim dan suhu udara menjadikan kawasan wisata ini menjadi pilihan yang tidak boleh ditinggalkan.

Namanya Danau Mas. Tapi fasilitasnya tidak mas alias ala kadarnya. Bahkan air danau dibiarkan jorok dan tidak terawat. Potensi begitu besar yang dapat mendukung berkembangnya bisnis wisata danau tersebut rupanya belum menjadi prioritas pemerintah daerah setempat untuk mengembangkannya. Fasilitas pendukung tempat wisata itu jauh dari memadai.

Untuk penunjang wisata utama, yaitu danau, misalnya, saat ini hanya tersedia beberapa sepeda air. Terbatasnya fasilitas pendukung itu menyebabkan pengunjung yang hendak bermain-main di danau kerap harus lama antre bersama pengunjung lain.

Fasilitas pendukung lain hanya berupa taman di bawah pepohonan di sisi timur danau. Di lokasi ini terdapat pula beberapa kursi ayun besi, yang biasa digunakan bermain oleh anak- anak atau pasangan muda-mudi yang tengah berpacaran. Meski dengan fasilitas terbatas, tempat di tepi danau ini tetap cukup lumayan bagi keluarga yang hendak melepas penat dan bagi anak-anak mereka yang mendapat hiburan sehat.

Dengan fasilitas yang masih terbatas, Danau Mas tetap menjadi pilihan warga untuk berkunjung karena memang tidak ada pilihan tempat wisata sejenis di kawasan itu. Pada hari Minggu atau hari libur rata-rata 300 pengunjung datang ke tempat wisata alam tersebut. “Jumlah pengunjung akan semakin banyak pada waktu digelar panggung hiburan di tempat ini,” kata penjaga parkir tadi.

Pada hari-hari biasa, , jumlah pengunjung tak terlalu banyak. Jumlahnya hanya puluhan orang. Saat ini di sekitar kawasan danau seluas 36 hektar yang dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 1980-an tersebut hanya terdapat tiga vila dan satu hotel. Semuanya itu dikelola oleh swasta.

Kami memang tidak lama-lama di sini. Apalagi menjelang siang, pengunjung sudah terlihat ramai. Di penghujung siang, kami mulai bergerak. Tujuannya kembali ke Bengkulu. Di kota ini kami berpisah. Aku kembali ke Medan dalam perjalanan yang melelahkan lewat jalur darat.

Share.

About Author

85 Komentar

  1. A person necessarily help to make critically posts I might state.
    That is the first time I frequented your website page and so far?
    I surprised with the research you made to make this particular publish incredible.

    Fantastic activity!

  2. Great web site you have got here.. It’s difficult to find high quality writing
    like yours these days. I really appreciate individuals like you!
    Take care!!

  3. Hi there just wanted to give you a quick heads up.

    The words in your post seem to be running off the
    screen in Ie. I’m not sure if this is a formatting issue or something
    to do with web browser compatibility but I figured I’d post to let you
    know. The design look great though! Hope you get the
    issue resolved soon. Many thanks

  4. Howdy! Someone in my Facebook group shared this site with
    us so I came to give it a look. I’m definitely loving the information.
    I’m book-marking and will be tweeting this to my followers!

    Fantastic blog and brilliant design.

  5. Whats up very nice blog!! Man .. Excellent .. Superb ..
    I’ll bookmark your blog and take the feeds also? I’m happy to search out a lot of helpful information right here in the publish, we’d like develop more strategies in this regard, thank you for
    sharing. . . . . .

  6. I think that what you said made a great deal of sense.
    But, think on this, what if you were to create a awesome headline?
    I am not suggesting your content isn’t solid, however suppose you added a headline
    that grabbed a person’s attention? I mean Curup
    dan Kapahiang, Kota Janda yang Kaya Keindahan is kinda vanilla.
    You might look at Yahoo’s home page and see how they create post titles to grab viewers to click.
    You might add a related video or a related picture or two to get people excited about what you’ve written. In my opinion, it might bring your posts a little bit more interesting.

  7. Hey There. I found your blog using msn. This is an extremely well written article.
    I will be sure to bookmark it and come back to read more
    of your useful information. Thanks for the post. I’ll definitely return.

  8. At this time it sounds like Expression Engine is the top blogging platform available right now.
    (from what I’ve read) Is that what you’re using on your blog?

  9. If some one desires expert view about blogging then i propose him/her to pay a quick visit this blog, Keep up the fastidious work.

  10. I beloved up to you’ll obtain carried out proper here. The cartoon is tasteful, your authored subject matter stylish.
    nevertheless, you command get bought an impatience over that
    you want be handing over the following. unwell undoubtedly come further earlier once more as exactly the similar just
    about very ceaselessly within case you defend this hike.

  11. I think that everything wrote was very reasonable.
    But, think on this, suppose you added a little content?
    I am not saying your information is not good., but
    what if you added something that makes people
    desire more? I mean Curup dan Kapahiang, Kota Janda yang Kaya
    Keindahan is kinda plain. You ought to glance at Yahoo’s home
    page and see how they create news titles to grab people
    interested. You might try adding a video or a related pic
    or two to get people interested about what you’ve written. Just my opinion, it might bring your blog a little livelier.

  12. Hi there very nice website!! Man .. Excellent .. Superb ..
    I’ll bookmark your blog and take the feeds also?
    I’m glad to search out a lot of useful information here within the submit,
    we want work out extra techniques on this regard, thanks for sharing.

    . . . . .

  13. I believe what you posted was actually very logical.

    However, what about this? suppose you added a little content?
    I mean, I don’t wish to tell you how to run your website, however what if
    you added a title to maybe grab a person’s attention? I
    mean Curup dan Kapahiang, Kota Janda yang Kaya Keindahan is kinda plain. You should peek at Yahoo’s front page and see how they write post headlines to get viewers interested.
    You might add a related video or a related picture or two to get people
    interested about everything’ve written. In my opinion, it
    might bring your website a little bit more interesting.

  14. I was just seeking this info for some time. After 6 hours of continuous Googleing,
    at last I got it in your site. I wonder what’s the lack of Google strategy
    that do not rank this type of informative web sites in top of the list.
    Usually the top sites are full of garbage.

Leave A Reply