Belajar Cara Mempercayai Dari Novel Tere Liye

57

Judul              : Ayahku (Bukan) Pembohong

Pengarang      : Tere Liye

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit    : Jakarta

Cetakan          : April 2011

Tebal Buku    : 304 Halaman

 

Buku ini menceritakan seorang ayah yang mengajarkan anak laki-lakinya bernama Dam dengan cerita dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Dam adalah seorang anak yang lahir dari keluarga sedehana dan bersahaja. Dam tumbuh dewasa dengan dongeng-dongeng  perjalanan hidup ayahnya yang sangat menarik. Ayahnya dikenal sebagai orang yang sangat jujur.

 

Dam tak pernah menceritakan dongeng Ayahnya kepada siapapun. Ia mengingat pesan Ayahnya bahwa cerita itu adalah rahasia antara Ia dan Ayahnya. Hanya Taani, yang ia percaya untuk mendengar cerita hebat Ayahnya. Hingga suatu hari Taani membuat semua orang di sekolah Dam mengetahui bahwa Ayah Dam mengenal Sang Kapten, pemain sepak bola nomor satu. Semua teman dan Guru berebut ingin mendengar cerita Dam dan menitipkan barang agar nanti di tandatangani saat Sang Kapten mengadakan kunjungan ke kota mereka.

 

Dam marah. Ia meneriaki Taani karena ceroboh meninggalkan buku hariannya di laci meja kelas. Dan buku harian itu berisi semua yang Dam ceritakan padanya. Dam berjanji tak akan menyapa Taani lagi hingga Ia benar-benar menyelesaikan permasalahan itu. Taani berusaha agar teman-temannya tak mempercayai buku harian itu. Bahkan Taani kembali sengaja meninggalkan buku hariannya, namun dengan cerita yang berbeda, semua Ia lakukan agar Dam memaafkannya.

 

Tiga tahun melesat dengan cepat, usia Dam sekarang lima belas tahun. Dia dan teman-temannya sudah lulus SMP dan ayahnya mengirim Dam ke sekolah berasrama antah berantah di uar kota yang sebelumnya tidak pernah didengar Dam. Nama asrama yang dimaksud Dam adalah Akademi Gajah. Di asrama ini lah Dam mendapat banyak teman baru. Selama tiga tahun di Akademi Gajah, Dam kehilangan kesibukan menjadi loper koran, kehilangan malam-malam bersama ibu dan di atas segalanya, Dam kehilangan cerita-cerita ayahnya yang menyenangkan. Cerita-cerita yang bisa memunculkan rasa tenteram, mengusir rasa sedih.

 

Disana Dam diajarkan pemahaman hidup yang tak melulu memprsoalkan nilai, tapi meninggikan ilmu. Dam menemukan buku tua di Perpustakaan, ketika ia dalam masa hukuman karena membuat gaduh asrama di malam hari. Buku tua itu bercerita tentang suku Penguasa Angin. Itu adalah kisah yang pernah di ceritakan Ayahnya. Yang membuat Dam paham bahwa kekerasan bukan untuk di balas dengan kekerasan pula. Dongeng itulah yang membuat Dam dulu, melawan Jarjit dengan mengajaknya berlomba renang. Agar Jarjit tak lagi menyebutnya pengecut.

 

Tanpa terasa tibala Dam pada tahun ketiga di Akademi Gajah. Dam mulai disibukkan dengan kegiatan barunya, yaitu membantu perkampungan dekat Akademi Gajah. Setiap soere, Dam membantu menangkap ikan, dan pekerjaan lainnya. Dam juga meminta izin kepada kepala sekolah untuk membuka kesempatan bekerja untuk murid lainnya, dan kepala sekolah menyetujui usulan Dam. Setelah sebulan bekerja, Dam menyisihkan gajinya tersebut untuk biaya perawatan ibunya yang sakit, dan jumlahnya akan semakin bertambah selama Dam rajin bekerja.

Sejak saat ibu Dam meninggal ia berhenti mempercayai cerita Ayahnya. Ibunya meninggal dan Ia tak sempat memeluknya untuk yang terakhir kali. Wajah ibunya terlihat lelah, bagaimana mungkin Ibunya bahagia selama ini. Begitu pikir Dam. Sejak saat itu pula Dam mulai membenci dongeng-dongeng ayahnya, bahkan hubungan Dam dan Ayahnya tidak harmonis.

 

Meski Dam membenci dongeng-dongeng Ayahnya, Ia tetap tak mampu menyangkal bahwa pemahaman baik yang ia dapatkan sekarang adalah karena dongeng tersebut. Bahkan karya karya Dam dalam mendesain bangungan ia banyak terispirasi dari dongeng Apel Mas dan Penguasa Angin. Daya khayalnya, ia tuangkan dalam sebuah sketsa bangunan. Hingga akhirnya Ia menjadi arsitek yang hebat.

 

Dam menikah dengan Taani, mereka bertemu kembali di universitas yang sama. Zas dan Qon menjadi cucu yang menggemaskan bagi Ayah Dam. Ayah Daam sering  menceritakan hal yang sama kepada cucu-cucunya, dan itu membuat Dam keberatan. Ia tak ingin cerita bohong Ayahnya meracuni pikiran anaak-anaknya. Karena baginyaz Zas dan Qon akan di beersarkan dengan pemahamann sebab akibat, bukann dengan dongeng-dongeng bohong seperti yang ia dapatkan semasa kecil. Hingga akhirnya Zas dan Qon bertanya mengenai kebennaran cerita  kakeknya  itu paada Dam. Karena meerekaa tak menemukan cirri-ciri  tempaat  atau apapun yang berkaitan dengan semua cerita kakeknya di  internet. Dam semakin kesal, ia mendesak Ayahnya agar mengaatakan bahwa dongeng-dongeng  itu bohong, agar anak-anaknya berhenti mencari kebenarannya. Namun Ayah Dam tetap bersikukuh baahwa Ia tidak berbohong. Dam hilaang kendali, ia  meminta Ayahnnya untuk tak lagi  tinggal dirumahnya.

 

Dam menemukan keanehan pada laptopnya yang tadi digunakan oleh Zas dan Qon. Mereka mencari  informasai dengan kata  kunci Akademi Gajah. Namun pencarian tidak di temukan.  Tak ada hasil untuk kata kunci tersebut. Ia terbelalak, tak percaya.  Karena mesin pencariannya tersambung ke ensiklopedia terbesar dunia. Akademi Gajah tempat Ia menerima bergbagai bentuk ilmu kehidupan, dengan surat pengantar khusus yang tak mungkin di tolak oleh universitas manapun di dunia, tak ada sedikitpun jejaknya di internet. Ia mulai menyesali perlakuan terhadap Ayahnya.

 

Namun sayang, saat penyesalan itu tiba, saat itu pula ayah Dam pergi meninggakan Dam untuk selama-lamanya. Sebelum ayahnya meninngal Ayah Dam mendongeng untuk terakhir kalinya. Ia bercerita mengenai Danau Para Sufi yang berkisah tentang perjalanan Ayah Dam mencari makna kebahagiaan sejati. Hingga akhirnya ia menemukannya. Kebahagiaan itu bersumber dari hati yang bersih. Hingga sebagaimanapun sekitar berusaha membuat keruh, ia akan tetap kembali jernih. Akan tetap bahagia, meski hidup penuh kesederhanaan. Itulah alasan mengapa Ibu Dam dulu tak ingin hidup bermewah-mewahan. Ia bahagia, dengan keluarga kecilnya, menyaksikan Dam tumbuh menjadi anak dengan pemahaman yang berbeda.

 

Hingga pada hari pemakamannya semua yang telah di ceritakan oleh ayah Dam terbukti kebenarannya dan Dam pun menyesali perasangka buruk kepada ayahnya dan meyakini bahwa ayahnya bukan lah seorang pembohong. Novel ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yang telah di alami seseorang hanya seseorang itu yang tau akan kebenaran dari setiap cerita yang telah ia ceritakan. Bahkan ketika cerita itu kita rasa sangat mustahil.

Share.

About Author

57 Komentar

  1. Hello, I think your blog might be having browser compatibility issues.

    When I look at your blog in Chrome, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, wonderful blog!

  2. Heya i’m for the first time here. I came across this board and I find It
    truly useful & it helped me out much. I hope to give something
    back and help others like you helped me.

Leave A Reply