Anjing-anjing Menyerbu Surau

0

Oleh : Dhedi R Ghazali

Siang itu, Pak Trisno terdiam di sebuah Surau di desanya. Seperti biasa, ia menunggu jamaah lain meskipun biasanya hanya satu dua orang yang datang seperti Mbah Rakimin yang umurnya sudah tujuhpuluh tahun dan Mbah Warso yang kini hidup sendirian sebab keluarganya sudah mati semua. Sambil menunggu mereka, Pak Trisno takzim berdzikir, membaca tasbih dan tahmid.

Sebenarnya namanya bukan Trisno namun Sutrisno. Warga kampung lebih sering memanggilnya dengan Trisno saja. Sutrisno diambil dari kata Su dan Trisno yang jika diartikan adalah cinta yang indah, cinta yang sejati. Meski demikian, kata Su identik dengan Asu atau Anjing. Oleh sebab itulah warga memanggilnya Trisno bukan Su ataupun Sutrisno.

Konon katanya, dulu Pak Trisno dilahirkan oleh sepasang kekasih yang kawin lari. Ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan bapaknya mati beberapa bulan kemudian setelah dianiaya warga kampung. Warga kampung kala itu tidak suka dengan Bapak Pak Trisno sebab telah membunuh seekor Anjing yang masuk dan mengobrak-abrik Surau yang ada di kampung itu. Bukan Anjing biasa. Tapi Anjing yang bisa berbicara layaknya manusia. Seekor Anjing yang menurut warga sekitar adalah penjaga kampung dari bala. Warga dengan beringas melakukan penganiayaan hingga tewas lalu menguburkan jasad Bapak Pak Trisno di belakang Surau.

Sejak saat itu, Pak Trisno diasuh 
oleh Mbah Warso dan setelah beranjak dewasa, ia memilih untuk tinggal di Surau dan menghabiskan waktunya untuk berasyik-mahsyuk dengan Gusti Allah. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk merawat Surau yang semakin tua. Tidak peduli apa kata warga, ia hanya ingin menunjukkan cinta sejatinya kepada Gusti Allah. Baginya, hanya Gusti Allah yang menjadi teman hidupnya.

Dulu, Pak Trisno sempat menikahi Janda di kampung itu. Namun hanya hitungan tiga bulan istrinya mati. Sebuah kematian yang tidak wajar. Tubuhnya ditemukan di belakang Surau dengan keadaan terkoyak-koyak seperti habis dimangsa binatang buas. Sejak saat itu ia memilih untuk hidup sendiri dan tidak ada niatan untuk menikah lagi.

***

Puluhan menit berlalu, tak seorang pun datang ke Surau. Pak Trisno menghela napas panjang dan bersiap menjalankan salat Dhuhur. Dengan khsuyuk ia menjalankan ibadah. Baru mendapat dua rakaat, dari luar terdengar keributan. Banyak orang berteriak. Namun Pak Trisno tetap khusyuk melanjutkan salatnya.

Selesai salat, Pak Trisno kaget. Ia melihat puluhan Anjing berada di luar Surau. Anjing yang bisa bicara selayaknya manusia. Anjing yang seperti dalam kisah kematian bapaknya dulu.

Anjing-anjing langsung merangsek masuk ke dalam Surau. Pak Trisno tak tinggal diam. Ia mengusir Anjing-anjing itu dengan sapu lidi yang biasa ia gunakan untuk membersihkan Surau.

“Pergi dari sini kau Trisno! Bapakmu telah membunuh leluhur kami! Telah kami bunuh pula istrimu sebagai pembalasan. Kali ini giliranmu yang harus mati!” Ucap seekor Anjing disusul dengan gonggongan anjing lainnya.

Tidak semua Anjing bisa bicara seperti layaknya manusia. Hanya dua ekor yang bisa berbicara seperti manusia.

Mendengar perkataan itu Pak Trisno kalap. Ia mengarahkan sapu lidinya untuk memukul anjing-anjing itu. Beberapa anjing terbirit-birit ketakutan meninggalkan Surau. Dua anjing yang bisa berbicara masih bertahan untuk melawan.

Hampir satu jam pergulatan terjadi. Pak Trisno yang tak lagi muda mulai kelelahan. Ia terlihat kualahan meladeni gigitan Anjing. Beberapa warga datang melihat perkelahian sengit itu. Mereka hanya melihat. Sama sekali tidak ada yang membantu.

Akhirnya Pak Trisno tumbang. Tubuhnya hancur terkoyak-koyak. Beberapa anjing yang sempat kabur kembali ke dalam Surau ikut mengoyak-koyak tubuh Pak Trisno. Warga yang sudah berkumpul di depan Surau hanya tertunduk. Mereka diam. Bagi mereka, Anjing-anjing itu adalah penolak bala dan Pak Trisno hanyalah orang yang tak berguna.

Hari demi hari Surau itu terlihat kosong. Tidak ada lagi yang berani datang ke sana. Rupa-rupanya Arwah Pak Trisno masih bersemayam di dalam Surau itu. Anjing-anjing itu pun mati setelah memakan daging Pak Trisno. Sejak saat itu, warga kampung terus menerus kedatangan bala baik penyakit menular maupun kekeringan yang membuat lahan pertanian mereka rusak. Satu per satu warga Kampung akhirnya mati.

Share.

About Author

Leave A Reply